Cari

Tutup Iklan

YA…. Iyalah…!!!

YA…. Iyalah…!!!

Tiba-tiba saja Abu Macel menjadi orang penting menjelang suksesi yang akan segera berlangsung di Desa Nyelekit. Banyak orang mencarinya untuk mendiskusikan

Opini/Artikel

YA…. Iyalah…!!!


Abu Macel
Oleh Abu Macel
31 Desember, 2013 13:57:37
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 1670 Kali

Tiba-tiba saja Abu Macel menjadi orang penting menjelang suksesi yang akan segera berlangsung di Desa Nyelekit. Banyak orang mencarinya untuk mendiskusikan soal ini. Mengapa Ia menjadi begitu penting? Apakah dia punya banyak pengikut karena berasal dari kalangan pesantren? Atau dia tokoh berpengaruh? Atau mungkin dia termasuk penentu dibalik pencalonan?

Kalau dikatakan penentu, Abu Macel bukanlah pimpinan Parpol. Kalau tokoh berpengaruh, Ia belum pernah berbuat banyak bagi Desa Nyelekit. Kerjanya hanya ngobrol belauk bedaye dengan para santri di samping rumahnya atau kongkow-kongkow dengan teman-teman aktifis. Yang paling aktual saat ini, Abu Macel membantu Panitia Pembangunan Masjid Al Akhwan di Griya Pagutan Indah melalui Gema Bang Sami alias Gerakan Masyarakat Menyumbang Satu Milyar.

Kalau berasal dari pesantren? Ia memang dibesarkan dikalangan santri. Tapi dulu, saat nyantri di Ponpes Darul Falah, Abu Macel masuk kategorisantri kalong. Alias santri yang mengaji sesuka hatinya.

Mengapa demikian? Abu Macel punya alasan sendiri. Baginya, menjadi murid adalah pekerjaan paling demokratris. Alasannya, karena kata murid berasal dari kata aroda, yuridu muridan. Orang yang berkehandak. Siapa saja yang berkehendak akan sesuatu maka ia adalah murid dari sesutu yang dikehendakinya. Sehingga ilmu apa yang ingin dipelajari, Dia sendiri yang menentukan. 

Meski demikian saat ini Ia termasuk orang yang cukup dipercaya oleh Pimpinan Pesantren. Walaupun sederhana, beberapa pemikirannya banyak diterapkan di Ponpes Darul Falah Pagutan, Ponpes Abhariyah Jerneng, Ponpes Darun Nadwah Dasan Ketujur, serta cabang-cabang dari Ponpes Darul Falah lainnya.

“Mengapa Syetan diusir dari Syurga oleh Tuhan?” Tanya Abu Macel mengawali, setelah tahu maksud kedatangan sahabatnya. Namun ketika hendak melanjutkan, seorang sahabat memotong pembicaraannya.

“Kami mau diskusi soal suksesi di desa kita. Yang kami inginkan bagaimana kita mencari pemimpin yang punya komitmen untuk memberantas KKN. Atau yang memperhatikan perut rakyat.  Kok malah bicara soal Syetan.” Potong sahabatnya seorang aktifis anti korupsi.

“Syetan itu sangat patuh pada Tuhan, sementara kalian berbeda. Kadang patuh sama Tuhan dan kebanyakan lainnya justru tunduk pada Syetan.” Lanjutnya dengan tenang tanpa memberi respon atas komentar sahabatnya.

“Hey… ente jangan ngomong ngawur begitu dong. Kami ke sini untuk membicarakan persoalan serius.” Sahut sahabat lainnya mulai tampak kesal.

Melihat itu Abu Macel berdiri hendak meninggalkan ruangan, namun dicegah oleh Abu Bongoh. 

“Beri kesempatan pada Abu Macel untuk menjelaskan, jangan disela, ok.” Pinta Abu Bongoh sambil menarik tangan Abu Macel agar duduk kembali.

Memang, bagi orang yang tak mengelola ilmu dengan baik, Abu Macel termasuk orang yang ngawur. Tapi coba simak baik-baik, pasti banyak tersimpan pemikiran yang benar. Abu Jahal juga menganggap Nabi Muhammad adalah orang yang paling ngawur bahkan dianggap gila. Tapi bukan berarti Abu Macel sama dengan Nabi lho… Baginya Nabi Muhammad adalah Idolanya.

Dalam bersikap, Abu Macel punya pandangan sederhana, seperti dalam Tafsir Ruhul Bayan, segala yang baik pasti berasal dari Nabi, kalau yang buruk itu namanya bid’ah. Kullu khairin ittibaa’ah. Kullu syarrin bid’ah. Jadi, dia tidak pernah pusing dengan pandangan dan pendapat orang. Apa saja yang dianggapnya benar dijalankan saja tanpa harus menyalahkan orang lain. Sebab manusia hanya hidup dari duga menduga. Maka belajarlah untuk menduga yang baik dan sediakan ruang yang luas agar tak diduga buruk. 

Maka, bagi pemimpin yang tak ingin diduga buruk oleh rakyatnya, keterbukaan alias transparansi solusinya. Sebab persoalan yang tidak diklarifikasi dapat menimbulkan fitnah.

Kemudian Abu Macel melanjutkan penjelasan. Ketika Syetan diperintah untuk bersujud kepada Adam. Ia menolak. Syetan hanya mau bersujud kepada Tuhan saja, kepada yang lain tidak. Namun Tuhan tetap mengusirnya dari Syurga. 

Baca Juga :


Sebelum meninggalkan Syurga, Syetan meminta ijin untuk menggoda Adam beserta cucunya hingga kiamat tiba. Tuhanpun mengijinkannya.

“Berarti Syetan sangat konsisten. Ia tak pernah melanggar komitmennya hingga kini.” Sela Abu Bongoh.

“Ya, berbeda dengan kita yang sering melanggar komitmen sendiri. Apalagi disaat kampanye. Ngomong demokrasi, pidatonya berapi-api. Tuding sana caci sini. Orang lain salah hanya dia yang suci. Setelah jadi, bertindak sendiri semaunya.” Sahut Abu Macel. Sementara para sahabat yang tadinya kesal, mulai mengerti penjelasan Abu Macel.

Syetan menolak keras jika manusia menjadi pemimpin atas dunia ini. Ada dua alasan mendasar yaitu soal regenerasi dan asal usul penciptaan.

Dua alasan itu memiliki argumentasi kuat. Atas dasar apa manusia yang anak kemarin sore diciptakan sudah berani memimpin dunia? Syetan yang merasa lebih dahulu ada malah tidak ditugasi menjadi pemimpin atas dunia ini. Itu alasan pertama.

Kedua, Syetan beranggapan bahwa dirinya diciptakan dari bahan yang lembut, yakni api, sementara manusia diciptakan dari bahan kasar yaitu dari tanah liat, satu tingkat dibawah keramik.

“Cukup. Kami sudah faham maksudnya. Kalau menolak regenerasi dan mempersoalkan asal-usul, berarti sama dengan menolak kepemimpinan manusia di bumi. Bukan begitu Cel..?” Kata Abu Mardud.

“Nanti dulu. Syarat menjadi Imam dalam Shalat jama’ah, harus menjadi rujukan untuk mencari dan memilih pemimpin. Kalau sama cerdasnya, cari yang usianya lebih senior. Kalau sama seniornya, cari yang berpenampilan menarik dan berwibawa. Kalau yang ketiga juga sama, persilahkanlah orang yang lebih dahulu tinggal di tempat itu…” kata Abu Macel.

“Berarti, soal asal usul tetap menjadi syarat yang diperlukan donk?” Tanya para sahabatnya serentak.

“Ya…. Iyalah…. Sebab semua mengaku sama-sama cerdas, sama-sama senior dan sama-sama pantas menjadi pemimpin. Jadi syarat terakhir ini perlu kalian pertimbangkan.” Kata Abu Macel cengar-cengir sambil menggaruk kepala. []

 

 



 

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2017 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan